Jumat, 20 September 2013

Bunuh Diri meningkat di wilayah Eropa dan AS



http://www.harianterbit.com/cms/wp-content/uploads/2012/09/bunuh-diri-415x300.jpeg

LONDON, KOMPAS.COM —
Di Eropa dan Amerika Serikat, ribuan orang bunuh diri karena terkena dampak krisis ekonomi. Jumlah mereka yang melakukan bunuh diri kian meningkat di negara-negara yang warganya kehilangan pekerjaan atau menjadi penganggur karena guncangan krisis ekonomi tersebut.

Krisis ekonomi yang melanda Eropa dan AS sejak 2008 memicu aksi bunuh diri. Sebuah riset menunjukkan bahwa sekitar 5.000 orang melakukan bunuh diri di Eropa dan AS pada 2009, tahun pertama saat bank mengalami kejatuhan yang dipicu gejolak ekonomi.


Sebuah hasil studi yang dipublikasikan Selasa (17/9/2013) oleh the British Medical Journal menunjukkan Inggris pun terkena tren tersebut. Sebanyak 300 aksi bunuh diri terjadi pada 2009.

Para peneliti yang berasal dari Universitas Oxford dan Bristol serta Universitas Hongkong memperkirakan, lonjakan bunuh diri disebabkan banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan. Diperkirakan, sebanyak 34 juta orang di seluruh dunia telah kehilangan pekerjaan selama krisis, bangkrut, atau rumah mereka disita.

Rentan

Menurut laman Independent.co.uk, para peneliti yang menganalisis tingkat bunuh diri di 45 negara di Eropa dan AS menyebutkan, di Eropa, pria berusia 15-24 tahun sangat rentan melakukan bunuh diri, sementara di AS bunuh diri dilakukan pria berusia 45-64 tahun.

Pria umumnya menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga dan paling terkena dampak resesi ekonomi dibandingkan perempuan. Mereka harus menanggung rasa malu yang sangat dalam karena kehilangan pekerjaan.

Karena itu, pria yang melakukan bunuh diri meningkat menjadi 3,3 persen. Krisis ekonomi inilah yang memicu orang melakukan aksi bunuh diri.

Sebuah survei yang dilakukan melalui telepon pada 2008 menunjukkan bahwa satu dari 10 penelepon bicara tentang kesulitan ekonomi. Pada Desember 2012, jumlah penelepon yang mengeluhkan kesulitan ekonomi meningkat dari satu penelepon menjadi enam penelepon. Ini merupakan faktor penting yang harus dipikirkan oleh pemerintah ketika hendak membuat perencanaan ekonomi.

Richard Garside, Direktur Pusat Studi Keadilan dan Kejahatan, mengatakan, riset itu menunjukkan bahwa krisis ekonomi telah membawa dampak serius pada kesehatan. Ketika orang harus menghadapi situasi ekonomi yang sangat sulit, lalu muncul tekanan dan ketidakpastian, mereka bisa bereaksi dengan cara yang berbeda. (BBC/LOK)

sumber : Kompas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Choose Label

Blogumulus by Roy Tanck and Amanda Fazani